Sunday, December 4, 2016

Loper Koran

Rabu, 9 Nopember 2016
Kamar kost digembok, helm terpasang di kepala dengan baju rapi dan tas dipundak, pertanda bahwa saya akan berangkat memulai aktivitas sebagai karyawan di pagi yang cerah ini. Ditemani dengan rasa kantuk karena tidur sekitar jam 04:30 s.d 06:30 ku pacu motorku dengan kecepatan standar kota sambil melihat indahnya pemandangan metropolitan 2. Tepat diperempatan Jl. Arief Rahman Hakim, lampu lalu lintas menunjukkan warna merah. Dengan motto tiada barisan terbelakang bagi pengendara motor, saya berusaha menuju barisan terdepan. Atas usaha yang terbilang nekat kucapai barisan tersebut. Sambil menunggu lampu hijau, ku perhatikan kondisi sekitar dan pada akhirnya mata tertuju pada seorang pria tua usia 50an tahun. Tiada yang spesial yang dapat digambarkan bagi pria tersebut. Dia hanya seorang bapak yang menawarkan koran kepengendara mobil dan motor. Profesi seperti itu kita kenal dengan nama loper koran.
Melihat seorang loper koran dijalan, saya teringat seorang loper koran muda peserta sebuah acara televisi Who Wants to be Milionaire. Pemuda tersebut berhasil mencapai pertanyaan terakhir, walaupun dia tidak bisa menjawab dan akhirnya menyerah.
Dari pengalaman tersebut, dapat diambil sebuah pelajaran, bahwa serendah apapun profesi seseorang belum tentu pengetahuan mereka.rendah

No comments:

Post a Comment